Bagi Saya, Menikah Cepat Bukan Prestasi. Ini Murni Soal Hati

by -68 Views

Bibir saya mengulum menahan senyum, saat ingat kalimat yang pernah terlintas di usia menginjak 20 tahunan. Rasanya dulu saya penasaran sekali dengan urusan pernikahan. Banyak hal yang saya pertanyakan, mulai dari yang remeh seperti rasanya menikah lalu punya keluarga kecil sendiri, sampai yang paling krusial seperti mengurus anak dan suami. Sempat merasa takut, jujur saya takut jika tak bisa menjadi pasangan serta orangtua yang baik. Tapi lagi-lagi penasaran membuat saya berkata ke diri sendiri, “Aku pengen nikah muda deh…. Umur 23 atau 24 mungkin,”.

Meski kenyataannya, di usia itu saya masih belum punya gambaran soal pasangan yang tepat. Saya masih sibuk mencari. Saya juga masih memikirkan urusan karir yang belum memenuhi kemapanan hati atau pun materi. Sampai urusan masa lalu dan pembenahan diri yang masih belum selesai. Alhasil cita-cita nikah muda seperti ingin memberontak. Apalagi saat melihat teman yang mantap melangkah pelaminan. Rasanya pertanyaan “Kapan nikah?” yang mulai muncul semakin mendapat dukungan. Dan memaksa saya menjawab, “Tahun depan, doain aja ya….”

Iya, dulu memang ada rasa ingin nikah cepat-cepat. Tak peduli pasangannya saja belum dapat, atau karir masih terasa belum tepat. Tapi sekarang, saat membicarakan nikah saya hanya senyum dan bilang “Iya, nanti,”. Tak ambil pusing dengan komentar orang. Sebab di titik ini saya tersadar, nikah memang wajib dan saya pun masih ingin, tapi bukankah semua ada waktunya?

Sekalipun tahu dia baik dan serius, saya tak lantas memenuhi pikiran dengan urusan nikah terus

Saya tak juga menikah di usia yang lewat 25 tahun ini bukan karena belum punya pasangan. Saya punya, dan merasa yakin jika dia orang yang tepat yang selama ini dicari. Bukannya kelewat percaya diri, tapi memang sosoknya terasa berbeda dari sekian banyak cowok yang pernah saya temui. Dia tak hanya berusaha memperlakukan saya dengan baik, tapi dia juga selalu menunjukkan keseriusan yang tak sekadar janji-janji manis. Entah dari gesturnya, dari pemilihan obrolan, atau sikapnya saat-saat menghadapi kesalahpaham.

Tapi bertemu dia bukan berarti membuat saya semakin ingin terburu-buru menikah. Justru kehadiran dia seperti titik balik yang membuat saya harus berpikir ulang, jika di hidup ini masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan. Bukan soal diri saya saja, tapi juga dia. Belum lagi hal-hal yang muncul di luar perkiraan. Toh nyatanya semakin memikirkan urusan “kapan menikah” justru membuat saya merasa tertekan. Membuat saya semakin tak sabaran, dan egois.

Jadi saat ini cukup lah tahu keseriusan dia, sementara urusan menikah biar mengalir dengan sendirinya.

Next >>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *