Astagfirullah, Saat sedang Sakratul Maut, Pemuda Ini Malah Minta Gitar

by -71 Views

Masalah ajal memang tidak ada yang tahu penghujungnya seperti apa.

Apakah akan berakhir khusnul khatimah atau malah suul khatimah.

Terkadang ada satu cara kita diselamatkan dan diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, atau malah ketika kita tidak sadar justru itu menjadi azab tersendiri.

Namun urusan wafat, sering disebut jika akhir hayat seseorang akan sama dengan apa yang sering ia lakukan.

Seorang ahli ibadah meninggal dalam ibadah, ahli maksiat juga meninggal dalam kondisi maksiat.

Seperti ucapan lama, jika pendekar mati diujung pedang, dan saudagar mati ketika berniaga.

Berikut kisah seorang anak band meninggal dalam kondisi tragis di akhir hayatnya. Tapi temannya mendapat kesempatan belajar dan memperbaiki diri, selengkapnya dari Ummu Faruq, yang dikutip oleh wordpress.com dari Majalah Sakinah volume 9, no 11.

Malam telah memeluk hari. Tapi jika aku tak jua beranjak dari tempat nongkrongku bersama teman-teman di trotoar jalan kota. Menenteng gitar, bernyanyi meski suara fals, menghibur sesama teman nongkrong.


Tak peduli tatapan lalu lalang orang yang merasa terganggu atau tak nyaman dengan tingkah kami. Meski tak jarang pula, orang tersenyum dengan ulah kami.
Adzan yang terdengar dan atap-atap masjid seperti angin lalu bagiku dan teman-teman.


Terkadang rasa takut mati dan bayang-bayang neraka melintas di benakku, Tapi ketakutan itu hanya sesaat, berlalu bersama kesenangan dan tawa bersama teman-teman.


Bersama mereka, aku tak pernah takut atau berpikir tentang mati.


Bukannya aku tak pernah shalat. Aku selalu rajin melakukannya di depan orangtuaku. Di rumah, kedua orang tuaku sangat keras menerapkan agama.


Mereka sangat “rewel” bila anak-anak malas untuk segera berwudlu bila adzan tiba. Tapi saat kost begini, mana ada yang memarahiku. Awalnya memang berat dan sayang meninggalkan sholat.


Tapi begitulah, teman gaulku di kampus bukan orang yang peduli pada agama. Hingga jadilah aku kian jauh dari agama. Tadarus tak pernah, bahkan hafalan Al-Quranku yang tak seberapa ikut melayang.


Meski ku ingat, bila aku sholat, teman-teman akan meledekku,“Sejak kapan kamu insyaf?” atau sindiran-sindiran senada lainnya.

Kemudian , , ,

Next >>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *