Banjir di Kota Pekalongan Berwarna Merah, 20 Kelurahan Terendam, Diduga karena Obat Batik

by -153 Views
by

KOMPAS.com – Air banjir berwarna merah melanda warga Kelurahan Jenggot Kota PekalonganJawa Tengah, pada Sabtu (6/2/2021) dini hari.

Menurut warga setempat, Furqon, penyebab air banjir bisa berwarna merah diduga karena obat batik.

“Biasanya tidak pernah terjadi air banjir warnanya merah. Kayaknya ini karena obat batik yang jatuh ke air banjir,” kata Furqon.

Hal senada juga diungkapkan Lurah Jenggot Taibin. Menurut dia, air banjir yang berwarna merah diduga karena ada warga yang sengaja membuang bahan pewarna batik.

“Ada yang sengaja membuang obat batik, jadi itu bukan limbah batik. Karena sejak kemarin wilayah Jenggot dan sekitarnya tidak ada aktivitas produksi jadi tidak ada limbah Apalagi hari ini hujan sejak malam,” tuturnya.

Namun demikian, dirinya masih mencari informasi siapa pelaku yang membuang obat batik tersebut.

“Saya dapat info itu obat sisa yang dibuang. Saya sedang cari informasi siapa pelakunya,” ungkap Tabiin.

 

Puluhan kelurahan terdampak

Dilansir dari Antara, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pekalongan Dimas Arga Yudha di Pekalongan, 20 kelurahan terdampak banjir.

“Ada sekitar 20 wilayah kelurahan yang saat ini terendam banjir. Akan tetapi, kondisi paling parah terjadi di Kelurahan Pasirkramatkraton, Tirto, Degayu, Celumprit dan sebagian Panjang Baru,” katanya.

Pihaknya saat ini terus memantau situasi dan mengevakuasi warga yang terdampak.

“Evakuasi terhadap para korban kami utamakan karena hingga saat ini hujan masih terus mengguyur seluruh wilayah Kota Pekalongan,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, hujan deras mengguyur Kota Pekalongan selama beberapa hari terakhir.

Selain itu kondisi diperparah karena juga terjadi gelombang pasang yang membutar ribuan rumah dalam 16 kelurahan di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, terendam banjir.

Dari data sementara, banjir paling parah melanda Kelurahan Degayu dan Pasirkratonkramat, dengan ketinggian air 20 sentimeter hingga 60 sentimeter.

(Penulis: Kontributor Pekalongan, Ari Himawan Sarono | Editor: Dony Aprian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *